Ikomupnjatim – Konferensi nasional COMMX 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur kembali menghadirkan wawasan internasional melalui sesi yang dibawakan oleh Dr. Nur Izzati Binti Aziz. Akademisi asal Malaysia tersebut mengangkat tema “AI and Education in Malaysia” yang membahas perkembangan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam sistem pendidikan di negaranya.
Dalam pemaparannya, Dr. Nur Izzati membuka wawasan para peserta, khususnya mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur, mengenai berbagai transformasi yang sedang terjadi di sektor pendidikan Malaysia. Menurutnya, AI tidak hanya menjadi tren teknologi semata, tetapi telah menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan pendidikan nasional yang disiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Ia menjelaskan bahwa Malaysia telah mengambil langkah progresif dalam memperkuat pendidikan digital, termasuk dengan menghadirkan kelas berbasis AI yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih adaptif dan inovatif. Kehadiran teknologi tersebut memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih personal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Pemerintah Malaysia, lanjutnya, menempatkan sektor pendidikan sebagai salah satu fokus utama dalam menghadapi perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat. Berbagai kebijakan dan program terus dikembangkan untuk memastikan bahwa tenaga pendidik, peserta didik, dan masyarakat dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi tanpa tertinggal oleh perkembangan global.
Salah satu inisiatif yang mendapat perhatian dalam pemaparan tersebut adalah program “AI for the People”. Program ini merupakan upaya pemerintah Malaysia untuk meningkatkan literasi dan pemahaman masyarakat terhadap teknologi AI melalui berbagai pelatihan, edukasi, dan pengenalan konsep dasar kecerdasan buatan yang dapat diakses oleh berbagai kalangan. Melalui program ini, pemerintah berupaya menjembatani kesenjangan literasi digital sekaligus mendorong masyarakat agar mampu memanfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab.
Dr. Nur Izzati juga menyoroti bahwa kultur pendidikan dan sosial di Malaysia memiliki banyak kesamaan dengan Indonesia. Kedua negara sama-sama menempatkan pendidikan sebagai fondasi penting pembangunan sumber daya manusia, dimulai sejak pendidikan anak usia dini hingga jenjang perguruan tinggi. Karena itu, keberhasilan transformasi pendidikan berbasis teknologi tidak hanya bergantung pada institusi pendidikan, tetapi juga membutuhkan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pemerintah berperan dalam menyiapkan regulasi dan infrastruktur, sementara sekolah, perguruan tinggi, serta masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memastikan teknologi digunakan secara optimal demi meningkatkan kualitas pembelajaran.
Menutup sesinya, Dr. Nur Izzati menegaskan bahwa kehadiran AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi manusia. “AI tidak menggantikan kepintaran manusia karena semua berasal dari kepintaran manusia pada awalnya,” ujarnya. Melalui pemaparan tersebut, para peserta COMMX 2026 memperoleh pemahaman baru bahwa AI merupakan alat yang dapat mendukung kemajuan pendidikan apabila dimanfaatkan secara bijak, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan kemampuan manusia. (A)
Penulis: Naomi Nathania Sinaga




