
komupnjatim – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur, Ibnaty Qanita Larasati, berhasil lolos sebagai finalis dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) yang diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah 7. Dalam final Pilmapres tersebut, Laras meraih penghargaan kategori khusus pemberdayaan perempuan melalui gagasan kreatif bertajuk Program AMAN: Antisipasi Mitigasi Ancaman terhadap Anak.
Pilmapres merupakan kompetisi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebagai wadah bagi mahasiswa berprestasi dari berbagai perguruan tinggi untuk menunjukkan capaian akademik, prestasi unggulan, serta kontribusi nyata kepada masyarakat.
Dalam ajang tersebut, setiap peserta diwajibkan membawa gagasan kreatif yang relevan dengan isu sosial. Laras mengangkat persoalan online exploitation and abuse terhadap anak yang kerap terjadi melalui proses child grooming. Menurutnya, isu tersebut penting untuk mendapat perhatian lebih luas karena masih banyak kasus yang belum terungkap.
“Mengapa ini penting untuk diangkat? Karena ada data dari KemenPPPA dan UNICEF yang mengungkap bahwa lebih dari 500.000 anak Indonesia setiap tahunnya menjadi korban child grooming. Namun, angka fantastis tersebut masih merupakan tip of the iceberg karena fenomena sebenarnya jauh lebih banyak daripada yang terekam,” jelas Laras.
Gagasan Program AMAN lahir dari pengalaman Laras selama aktif di BEM FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur, khususnya saat mengelola SAPA (Sarana Aman Pengaduan) sebagai ruang aman bagi keluarga mahasiswa FISIP UPNVJT.
Program AMAN dirancang dalam bentuk hybrid dengan memadukan sosialisasi langsung ke wilayah padat penduduk dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.
“Program AMAN ini berbentuk hybrid. Ada program sosialisasi yang bersifat konvensional ke kelurahan-kelurahan padat penduduk dan berbantuan kecerdasan buatan. Cara kerja berbantuan kecerdasan buatan pada Program AMAN ini mirip dengan web extension browser,” ujarnya.
Dalam implementasinya, Program AMAN menggunakan teknologi Natural Language Processing (NLP) berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi pesan yang mengarah pada praktik child grooming. Sistem tersebut akan memberikan sinyal peringatan kepada anak ketika menemukan indikasi percakapan berbahaya.
“Ketika anak memencet ‘OK’ setelah mendapat sinyal peringatan adanya child grooming, ia akan diarahkan ke chatbot dan mendapatkan beberapa pertanyaan, seperti ‘Kamu sudah berapa lama kenal dengan lawan bicaramu?’ atau ‘Sudah berapa kali dia meminta foto atau berbicara tidak senonoh?’. Setelah melalui proses tersebut, chatbot akan menanyakan persetujuan kepada anak untuk menjelaskan kronologi, lalu menghubungkannya ke layanan di Indonesia, seperti SAPA 129,” terang Laras.
Perjalanan Laras menuju final Pilmapres LLDIKTI Wilayah 7 tidak berlangsung singkat. Ia harus melalui berbagai tahapan seleksi hingga akhirnya terpilih menjadi salah satu finalis.

Laras mengaku ketertarikannya terhadap Pilmapres muncul setelah terinspirasi oleh seorang mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya bernama Marsha yang dikenalnya melalui kompetisi. Sosok tersebut memotivasinya untuk mulai mencari informasi dan mempersiapkan diri mengikuti Pilmapres.
Bagi Laras, pencapaiannya di Pilmapres menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Ia pun membagikan pesan motivasi kepada mahasiswa lain yang kerap merasa takut atau ragu saat mencoba hal baru.
“You’re going to be scared either way. Rasa takut dan ragu itu wajar karena emosi tersebut merupakan bagian dari dirimu. So, just do it scared, do it hard, do it unmotivated, just do it. It’s okay to be scared, it means you’re about to do something very brave,” tutur Laras.
Ia juga mengingatkan bahwa proses belajar dan keberanian mencoba hal baru merupakan pengalaman yang tidak selalu dapat diukur dengan penghargaan.
“Kalau kamu mencoba hal baru, sangat wajar jika kamu tidak langsung menguasai hal tersebut. Kamu akan mulai kembali mengenali diri sendiri di dalam proses yang kamu lalui. Itu yang tidak dapat dihargai oleh medali mana pun. So, be kinder to yourself,” tutupnya. (S)
Penulis: Muhammad Shofil Azmi
Editor: Nabilla Putri Sisilia




