Bedah Fenomena Participatory Culture, IKOM UPNVJT Hadirkan Marketing Manager Macaroni Cuck dalam Kuliah Tamu

Sesi foto bersama dengan Bayu Mahardika dan peserta kuliah tamu (Dok. pribadi)

Ikomupnjatim – Program Studi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) kembali menggelar kuliah tamu guna memperdalam wawasan mahasiswa mengenai perkembangan komunikasi dan branding digital. Kegiatan yang menghadirkan Bayu Mahardika, S.I.Kom., M.Med.Kom. selaku Marketing Manager Macaronicuck sebagai pemateri utama ini berlangsung di Gedung Twin Tower B 807 pada Selasa (12/05/2026).

Kuliah tamu tersebut mengangkat tema “Participatory Culture & The Rise of User-Generated Branding”. Dalam pemaparannya, Bayu menjelaskan bahwa dinamika komunikasi saat ini tidak dapat dilepaskan dari fenomena media shifting yang terbagi menjadi dua fase, yakni traditional media dan digital disruption.

“Pada era media tradisional, audiens cenderung memendam pendapat karena adanya peran gatekeeper. Berbeda dengan sekarang, masyarakat memiliki kebebasan untuk mempublikasikan pendapat melalui media sosial,” ujar Bayu.

Ia juga menjelaskan bahwa digital disruption melahirkan fenomena prosumer, yakni kondisi ketika audiens tidak lagi hanya mengonsumsi konten, tetapi juga ikut memproduksi dan menyebarkannya. Menurutnya, perubahan tersebut terjadi karena media digital memberikan ruang bagi audiens untuk memodifikasi pesan sekaligus memberikan kontrol lebih besar kepada audiens terhadap penyebaran informasi.

Keterlibatan aktif audiens dalam menciptakan dan mendistribusikan konten kemudian melahirkan participatory culture. “Audiens berpartisipasi aktif dengan membuat, membagikan, memodifikasi, dan meneruskan konten,” jelasnya.

Berangkat dari konsep tersebut, Bayu turut membagikan bekal praktis kepada mahasiswa sebelum terjun ke dunia marketing. Ia menyebut terdapat lima kata kunci yang perlu diperhatikan dalam membangun sebuah brand.

“Pertama adalah brand yang berkaitan dengan identitas, kedua user mengenai target audiens, ketiga creator untuk menentukan KOL yang tepat, keempat komunitas yang spesifik, seperti pencinta pedas pada Macaronicuck, dan terakhir publik mengenai bagaimana masyarakat luas mempersepsikan kita,” paparnya.

Selain itu, Bayu juga mengingatkan berbagai risiko yang harus diantisipasi oleh pelaku marketing di era digital. Ia menuturkan bahwa sebuah brand perlu mempertimbangkan potensi risiko, mulai dari bad review hingga aksi boikot. Oleh karena itu, sebuah brand tidak dapat hanya berfokus pada kualitas maupun rasa produk semata, tetapi juga harus memperhatikan persepsi publik terhadap brand tersebut.

Sesi kuliah tamu berlangsung interaktif dan ditutup dengan sesi tanya jawab. Mahasiswa terlihat antusias berdiskusi mengenai strategi branding digital serta fenomena partisipasi audiens di media sosial.

Azzademaya, salah satu mahasiswa semester enam yang hadir, turut memberikan respons positif terhadap kegiatan tersebut.

“Menurut saya, kegiatan ini seru karena pembawaan narasumbernya asyik, dapat terhubung dengan mahasiswa, dan kompeten sehingga materinya mudah dipahami serta tidak monoton. Banyak hal baru yang insightful dan rasanya tidak akan didapatkan hanya dari belajar teori tanpa pengalaman langsung dari praktisinya,” ungkapnya.

Ia juga memberikan penilaian 9/10 untuk kuliah tamu tersebut. Menurutnya, kekurangan dari kegiatan itu hanya terletak pada durasi pelaksanaan yang dirasa masih kurang panjang.

Penulis: Aura Dwinda Sugianti
Editor: Nabilla Putri Sisilia