
Ada orang yang hadir dalam kehidupan kita bukan sekadar sebagai teman. Ia datang pada satu masa, kemudian perlahan menjadi bagian dari perjalanan panjang kita. Tempat bertukar pikiran, partner bekerja, sekaligus seseorang yang membuat kita berani membayangkan sesuatu yang lebih jauh.
Bagi saya, Irwan Dwi Arianto adalah orang seperti itu.
Saya mengenal Irwan pertama kali sebagai mahasiswa saya. Sejak awal saya melihat ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Ia memiliki ketertarikan dan kemampuan yang kuat dalam teknologi digital. Saya melihat potensi itu dan kemudian mengajaknya belajar sesuatu yang pada waktu itu masih relatif baru dalam kajian komunikasi: big data media sosial.
Awalnya sederhana. Kami belajar bersama memahami bagaimana jutaan percakapan di media sosial dapat dikumpulkan, diolah, dipetakan, dan akhirnya digunakan untuk membaca realitas sosial dan politik.
Ternyata Irwan berkembang jauh melampaui apa yang saya bayangkan.
Kemampuan teknologinya membuat ia cepat memahami dunia big data. Ia kemudian mendalami Social Network Analysis (SNA) dan berbagai pendekatan untuk membaca jaringan komunikasi di ruang digital. Karena kemampuan itulah, Irwan menjadi orang yang sangat mudah saya ajak berdiskusi dan berkolaborasi. Ketika muncul gagasan penelitian, kami bisa segera menerjemahkannya menjadi data, analisis, dan akhirnya karya.
Hubungan kami pun perlahan berubah.
Dari dosen dan mahasiswa, menjadi partner riset dan partner intelektual.
Kami meneliti bersama. Menulis bersama. Mengembangkan gagasan bersama. Kami berbagi pengetahuan melalui berbagai workshop tentang big data dan SNA. Banyak karya lahir dari perjalanan tersebut.
Bahkan ketika saya akhirnya mencapai Guru Besar dalam bidang Komunikasi Politik dan Big Data, saya menyadari bahwa dalam perjalanan panjang menuju capaian akademik tersebut, Irwan adalah salah satu kontributor terbesar dalam sejarah perjalanan saya menjadi profesor.
Ada banyak diskusi, penelitian, tulisan, dan karya yang kami bangun bersama. Saya membawa perspektif komunikasi politik, sementara Irwan memiliki kekuatan dalam teknologi digital, big data, dan SNA. Kami tidak memiliki kemampuan yang sama, tetapi justru karena itulah kami saling melengkapi.
Namun ada satu kenangan akademik tentang Irwan yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan.
Saya masih ingat betul ketika menguji disertasi Irwan tentang partisipasi politik kelompok Islam modern dan Islam tradisional dalam Pemilihan Presiden 2024.
Ketika membaca analisisnya, saya mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar:
“Wan, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa akun ini adalah Islam modern dan akun yang itu adalah Islam tradisional?”
Pertanyaan sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan metodologis yang sangat penting. Sebab media sosial tidak menyediakan kolom identitas yang menyatakan seseorang adalah Islam modern atau Islam tradisional.
Saya tahu, bagi Irwan saat itu saya mungkin menjadi momok penguji yang menakutkan.
Tetapi justru dalam proses pengujian itulah terjadi salah satu diskusi akademik yang paling saya ingat tentang dirinya.
Irwan menjelaskan bahwa ia tidak semata-mata mengidentifikasi akun berdasarkan identitas formal pemiliknya. Ia membacanya melalui pembicaraan dan wacana yang diproduksi akun tersebut di media sosial.
Ketika sebuah akun secara konsisten menggunakan istilah, isu, simbol, dan pembicaraan keislaman yang secara konseptual lebih dekat dengan Muhammadiyah, melalui proses algoritmik akun tersebut dikelompokkan sebagai bagian dari Islam modern. Sebaliknya, ketika percakapan, simbol, tokoh, dan narasi yang muncul lebih dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU), akun tersebut dikelompokkan sebagai Islam tradisional.
Saya kemudian memahami bahwa yang sedang dilakukan Irwan bukan sekadar Social Network Analysis.
Ia sedang mencoba mempertemukan SNA dengan analisis wacana.
SNA digunakan untuk melihat jaringan: siapa berbicara dengan siapa, siapa menjadi pusat percakapan, bagaimana komunitas terbentuk, dan bagaimana hubungan antarakun berlangsung.
Tetapi jaringan saja tidak cukup.
Irwan mencoba masuk lebih dalam dengan membaca apa yang dibicarakan oleh jaringan tersebut. Dari bahasa, simbol, isu, tokoh, dan narasi yang diproduksi akun-akun itulah identitas kelompok kemudian dikonstruksi dan diklasifikasikan.
Bagi saya, di situlah letak kekuatan terbesar disertasi Irwan.
Ia tidak berhenti pada pertanyaan “siapa terhubung dengan siapa”, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang jauh lebih substantif:
“Apa yang mereka bicarakan, dan bagaimana pembicaraan itu menjelaskan identitas sosial dan politik mereka?”
Itulah salah satu karya ilmiah terbesar Irwan.
Sebuah karya yang pada masanya sangat kekinian, berani, dan menawarkan kebaruan dalam kajian SNA media sosial karena mencoba mempertemukan struktur jaringan dengan makna percakapan. Saya yang pada awalnya mungkin menjadi penguji yang menakutkan baginya, justru kemudian menjadi orang yang sangat menghargai keberanian akademiknya.
Dan saya mengatakan dalam hati:
Karya seperti ini pantas mendapatkan nilai A.
Sekarang, ketika Irwan telah pergi, kenangan tentang ujian disertasi itu terasa berbeda.
Dulu kami memperdebatkan metodologi. Kami berbicara tentang algoritma, akun, Muhammadiyah, NU, jaringan, dan wacana. Semuanya terasa sebagai bagian dari kehidupan akademik yang biasa.
Hari ini saya menyadari bahwa percakapan-percakapan seperti itulah yang ternyata paling saya rindukan.
Kadang saya membayangkan perjalanan kami seperti berjalan dengan dua kaki.
Satu kaki adalah saya.
Satu kaki lainnya adalah Irwan.
Dengan dua kaki itulah kami mencoba memasuki wilayah baru dalam ilmu komunikasi. Kami belajar membaca masyarakat bukan hanya melalui survei, wawancara, atau teks, tetapi juga melalui jutaan jejak digital manusia di media sosial.
Kami memiliki mimpi yang sama: suatu saat big data dan SNA tidak lagi menjadi sesuatu yang asing dalam penelitian ilmu komunikasi.
Namun sekarang, satu kaki itu telah pergi.
Dan baru setelah kepergiannya saya benar-benar merasakan betapa besar ruang yang selama ini ditempati Irwan dalam perjalanan tersebut.
Tidak ada lagi Irwan yang bisa saya ajak berdiskusi seperti dulu.
Tidak ada lagi percakapan spontan tentang data dan SNA. Tidak ada lagi kesempatan mengatakan, “Wan, ayo kita coba kerjakan ini.” Tidak ada lagi partner yang dengan cepat memahami ketika saya membawa sebuah gagasan tentang komunikasi politik dan dunia digital.
Perjalanan ini memang terasa lebih berat sekarang, karena satu kaki telah teramputasi.
Tetapi perjalanan yang pernah kami mulai tidak boleh ikut berhenti.
Saya harus belajar kembali menjaga keseimbangan. Memperkuat langkah yang masih tersisa dan melanjutkan perjalanan yang dahulu kami mulai bersama.
Saya percaya perjalanan Irwan sebenarnya belum benar-benar selesai.
Ada mahasiswa yang pernah belajar darinya. Ada peneliti muda yang pernah berdiskusi dengannya. Ada orang-orang yang memperoleh pengetahuan melalui workshop yang pernah kami lakukan. Ada pula karya-karya ilmiah yang akan tetap dibaca bahkan ketika penulisnya sudah tidak lagi bersama kita.
Merekalah kaki-kaki baru yang akan meneruskan perjalanan itu.
Suatu hari nanti, ketika semakin banyak mahasiswa menggunakan big data dalam penelitian komunikasi, ketika SNA dipadukan dengan analisis wacana, ketika jaringan digital tidak hanya dihitung tetapi juga dimaknai, saya yakin akan kembali teringat kepada Irwan.
Dan mungkin dalam hati saya akan berkata:
“Wan, ternyata perjalanan yang dulu kita mulai bersama sudah sampai sejauh ini.”
Selamat jalan, Irwan Dwi Arianto.
Dulu engkau datang sebagai mahasiswa yang saya lihat memiliki potensi dalam teknologi digital. Kemudian engkau tumbuh menjadi partner riset, teman berdiskusi, teman menulis, teman berbagi ilmu dalam berbagai workshop, dan akhirnya menjadi sahabat dalam perjalanan intelektual saya.
Terima kasih telah menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan akademik saya, termasuk dalam perjalanan saya mencapai Guru Besar di bidang Komunikasi Politik dan Big Data.
Dan terima kasih karena sebagai mahasiswa, engkau juga pernah membuat saya belajar bahwa seorang guru tidak selamanya hanya mengajarkan sesuatu kepada muridnya.
Pada suatu titik, seorang murid dapat tumbuh menjadi partner yang juga mengajarkan banyak hal kepada gurunya.
Karya-karyamu akan menjadi jejak.
Disertasimu akan menjadi salah satu penanda perjalanan intelektualmu.
Gagasan-gagasanmu akan menjadi pijakan.
Dan ilmu yang pernah engkau bagikan akan hidup melalui orang-orang yang pernah belajar darimu.
Saya akan merindukan diskusi-diskusi kita, Wan.
Saya akan merindukan saat sebuah pertanyaan sederhana berubah menjadi perdebatan metodologis, kemudian berkembang menjadi gagasan, penelitian, dan karya.
Kini saya harus melanjutkan perjalanan itu tanpa satu kaki yang selama ini menemani.
Karena manusia bisa pergi.
Sahabat bisa meninggalkan ruang yang tak tergantikan.
Tetapi ilmu yang pernah kita bangun bersama
harus terus berjalan.
Selamat jalan, Wan.
Jejakmu tidak berhenti pada kepergianmu.
Ia tinggal di dalam ilmu yang pernah kita bangun bersama.
Penulis: Prof. Catur Suratnoaji




