Ikomupnjatim – Program Studi Ilmu Komunikasi (IKOM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) kembali menggelar konferensi internasional CommXperience 2026 pada Rabu (17/6). Acara yang mengusung tema “SEAnergy: Communication, Culture and Collaboration in Digital South East Asia” tersebut mengupas isu seputar AI.
Ketua Pelaksana CommXperience 2026, Sigit Andrianto, M.I.Kom., menyatakan bahwa terdapat 3 pembicara dari Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Masing-masing menyampaikan materi tentang AI dan pekerja migran di Indonesia, AI dan pendidikan di Malaysia, serta AI dan Industri Periklanan di Thailand.
“Selain tema-tema AI dari pembicara utama, ada juga 236 paper yang dipresentasikan dalam CommXperience tahun ini,” ujarnya saat ditemui sela acara.
Tema yang diangkat tersebut disambut baik oleh berbagai pihak. Termasuk Gavrila Reyna, salah satu peserta yang turut mempresentasikan risetnya di forum internasional tersebut.
Gavrilla sendiri turut berpartisipasi dengan mengirimkan makalah penelitiannya yang berjudul “Transmedia Storytelling Discourse in Web Series and Film Sore: Istri Dari Masa Depan”. Ia mengaku bahwa keikutsertaannya dalam acara ini didorong oleh ketertarikan dirinya terhadap laju perkembangan media digital yang begitu masif.
“Selain untuk memenuhi syarat kelulusan, saya mengikuti CommX karena topik seminar ini sangat relevan dengan isu yang saya teliti. Saat ini juga, hampir semua lini kehidupan kita tidak lepas dari yang namanya Ai,” ujarnya.
Melalui makalahnya, ia ingin membagikan temuan riset yang menunjukkan betapa besarnya peran media digital pada kemajuan industri media masa kini. Ia menyadari bahwa platform dan teknologi komunikasi digital saat ini terbukti memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam menjangkau sekaligus mengikat atensi para audiens.
Gavrila juga mengaku sangat puas terhadap berbagai materi konferensi yang dipaparkan oleh tiga pembicara utama pada CommXperience 2026. Ia secara khusus merasa sangat terkesan dengan sesi implementasi kecerdasan buatan (AI) dalam sektor pendidikan yang dibawakan oleh Dr. Nur Izzati Binti Aziz.
Materi dari akademisi Universiti Malaya tersebut dinilai berhasil menjawab keresahan Gavrila terkait kekaburan identitas antara karya yang dibuat AI dengan tulisan manusia. Pemaparan itu juga memberikannya wawasan baru mengenai pentingnya regulasi dan kebijakan AI di Malaysia untuk meningkatkan literasi digital pada masyarakat di negeri jiran tersebut.
Konferensi Internasional ini juga semakin lengkap dengan hadirnya topik AI bagi pekerja migran oleh Dr. Irfan Wahyudi dari Universitas Airlangga Indonesia dan industri periklanan oleh Dr. Pariya Ahluwaliya, seorang pakar hubungan masyarakat dan pemasaran digital dari Thailand. Kehadiran mereka sukses melengkapi dan memperkaya perspektif dari keseluruhan sesi CommXperience tahun ini.
Sebagai penutup, Gavrila berharap seluruh wawasan yang dibagikan dalam konferensi ini mampu mendorong masyarakat untuk lebih adaptif terhadap teknologi. “Saya harap audiens bisa memanfaatkan media digital secara bijak sebagai pendukung untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas tugas,” pungkasnya. (A)
Penulis: Aqilah Nur Safura




