
Ikomupnjatim – Syifa Syarifah Alamiyah, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur, kini mengemban amanah baru dengan menjabat sebagai Kepala Unit Pelaksana Akademik (UPA) Pusat Bahasa UPN “Veteran” Jawa Timur. Penugasan tersebut menandai bertambahnya peran Syifa dalam mendukung penguatan layanan akademik di lingkungan kampus.
Di tengah tanggung jawab barunya, Syifa tetap menjalankan peran akademiknya sebagai dosen. Latar belakang keilmuannya di bidang komunikasi membentuk perspektifnya dalam mengelola unit pendukung akademik, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan kebahasaan dan upaya internasionalisasi perguruan tinggi.
Perjalanan akademik Syifa didukung oleh pengalaman studi di dalam dan luar negeri. Ia menyelesaikan pendidikan magister di The University of Queensland melalui skema Australia Awards Scholarships (AAS), sebuah program beasiswa internasional yang dikenal kompetitif. “Itu salah satu beasiswa yang paling bergengsi karena persaingannya sangat sulit,” ungkapnya dalam wawancara.
Selain itu, Syifa juga mengikuti program pertukaran pelajar di Ajou University, Korea Selatan, serta kursus singkat di International Islamic University Malaysia. Saat ini, ia tengah melanjutkan studi doktoral di Universitas Airlangga dengan konsentrasi ilmu sosial. “Sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di Unair, jurusan ilmu sosial,” ujarnya.
Kepercayaan pimpinan universitas yang diberikan sejak 2023 untuk memimpin UPA Pusat Bahasa menjadi fase baru dalam pengabdiannya di UPN “Veteran” Jawa Timur. Melalui peran tersebut, Syifa terlibat langsung dalam pengelolaan unit strategis yang berfokus pada peningkatan kapasitas kebahasaan sivitas akademika.
Di bawah kepemimpinannya, Pusat Bahasa mengembangkan berbagai layanan, mulai dari pelatihan bahasa, tes kemampuan bahasa, hingga pendampingan kebahasaan bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), yang diarahkan agar lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Pusat Bahasa tidak hanya diposisikan sebagai unit layanan administratif, tetapi juga sebagai pendukung akademik yang menjembatani kebutuhan institusi dengan dinamika internasionalisasi kampus. Pendekatan tersebut sejalan dengan latar belakang Syifa sebagai akademisi komunikasi yang terbiasa bekerja lintas konteks dan budaya.
Meski mengemban jabatan struktural, Syifa tetap menjaga komitmennya dalam kegiatan pengajaran dan pendampingan mahasiswa. Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dari identitasnya sebagai dosen sekaligus akademisi.
Kiprah Syifa mencerminkan bagaimana keilmuan komunikasi dapat berkelindan dengan peran pengelolaan institusi. Dari ruang kelas hingga Pusat Bahasa, perjalanannya menunjukkan proses adaptasi akademisi dalam menjawab kebutuhan kampus yang terus berkembang. (D)
Penulis: Farah Aulia Az-Zahra
Editor : Nabilla Putri Sisilia




