
Ikomupnjatim – Sarah Syahida, nama indah yang sarat akan makna perjuangan, yang tak lain adalah milik mahasiswi tingkat akhir Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur. Boleh jadi benar adanya bahwa nama adalah doa, Sarah tumbuh menjadi wanita yang mendedikasikan waktunya di jalan dakwah. Memperjuangkan nilai-nilai islam untuk terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Bercerita soal Sarah, Ia merupakan wanita kelahiran Sidoarjo. Sedari kecil, ia tumbuh dan belajar di lingkungan pendidikan islam. Pun nilai-nilai dakwah juga telah ditanam dan diwariskan oleh kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru.
“Keteladanan Umi Abi dari kecil diajarkan bahwa ‘kita untuk umat’. Bukan hanya ibadah pribadi, tapi juga ibadah sosial, yakni dakwah,” Cerita Sarah menjawab dari mana perjalanan dakwahnya berangkat.
Kini, wanita kelahiran 2003 ini selain sibuk menyelesaikan skripsi S1-nya, juga tengah fokus mengajar mengaji dan hafalan Quran anak usia dini di Tempat Pembelajaran Quran (TPQ) Istiqamah. Selain itu, ia juga berperan sebagai Murabbi, sebutan untuk mentor yang secara spesifik membina ilmu, akhlak, dan kepribadian para muridnya.
Gelar ustazah disematkan padanya tak hanya oleh anak-anak saja, melainkan juga oleh remaja hingga wanita dewasa. Menariknya,lebih dari 100 orang pernah ia bina, mulai dari forum kecil hingga forum besar, yang tersebar di sepanjang Sidoarjo-Surabaya. Hal tersebut ia wujudkan melalui peran aktifnya di yayasan dakwah pemuda, Better Youth Foundation.

Perannya sebagai pionir dakwah tak hanya tercermin melalui mikrofon dan panggung ceramah. Sarah juga membangun komunitas baca, Sobat Baca Sobat Bicara, sebagai wujud bentuk rasa kepeduliannya terhadap pendidikan. Tak berhenti disana, Ia bahkan mendirikan kos-kosan khusus muslimah dengan pengelolaan berbasis islami.
Sarah menjelaskan motivasinya, “Allah udah menetapkan bahwa kita adalah khalifah fil ard, pemimpin di muka bumi. Menghadapi akhir zaman yang sudah sebegitu rusak, kalau tidak ada yang berusaha meng-counter hal tersebut ya tidak akan ada yang berubah.”
Alasan tersebut menguatkan tekadnya untuk terus terjun dan belajar di prodi Ilmu Komunikasi. Ia ingin mempelajari realitas media yang kerap menjadi ‘medan pertarungan’ ideologi dan paham yang mempengaruhi pola pikir dan pola hidup manusia. Baginya sangat penting memahami bagaimana pesan dibentuk dan disampaikan agar benar-benar bisa diterima.
“Jadi, walaupun mungkin peranku cuma seuprit aja, Bismillah dengan sedikit ilmu yang aku punya, minimal sudah dicatat oleh Allah bahwa aku sudah pernah berusaha ambil bagian jadi khalifah fil ard di tengah porak poranda dunia,” pungkas Sarah melambungkan harapnya sekaligus menutup sesi wawancara. (F)
Penulis :Indaana Julfaa
Editor : Putri Permatasari
#IkomUPNJATIM #Pemudaislam #Dakwah