Mahasiswa IKOM Kembangkan Aplikasi Manajemen Proyek bagi Agensi Kreatif

Harits membangun aplikasi RevisionIt
Harits membangun aplikasi RevisionIt (Dok. Pribadi)

Ikomupnjatim – Harits Razan, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur berhasil mengembangkan sebuah aplikasi manajemen proyek agensi kreatif. Aplikasi bernama RevisionIt itu merupakan perangkat costumer relationship management yang dapat digunakan perusahaan untuk mengelola, menganalisis, dan meningkatkan interaksi dengan klien.

Berbeda dengan aplikasi manajemen proyek lainnya, RevisionIt menawarkan keunggulan berupa ekosistem terintegrasi yang memungkinkan penggunanya melakukan quality control kerja editor secara langsung. “Kita di sini nggak cuma bisa nge-track project-nya aja, tapi di sini kita juga bisa ngelakuin quality control, melihat berapa banyak total brand yang sudah kita handle, ngelihat beberapa KPI dari karyawannya, dan berapa banyak project editor yang sudah didelegasikan,” jelas Harits.

Aplikasi ini menggunakan mekanisme yang memisahkan fitur dasbor khusus untuk mempermudah kolaborasi alur kerja antara video editor dan project manager. “Editor bisa mengunggah video langsung dan bisa melihat deadline tertentu, sedangkan project managernya bertugas mulai dari bikin brief project sampai nge-tracking projectnya,” ujar Harits.

Ide ini berangkat dari keresahan Harits yang kerap kali menjumpai sistem kerja tidak terstruktur di industri kreatif. “Selama aku kerja di agensi, entah itu kerja freelance, remote, dan selama magang ini aku nemu masalah yang berulang kali, seperti project managementnya yang nggak terstruktur dan ada banyak hal-hal yang aku rasa bisa dioptimalkan,” kata Harits.

Tampilan User Interface Aplikasi RevisionIt
Tampilan User Interface Aplikasi RevisionIt (Dok. Pribadi)

Dalam proses perancangannya, Harits sama sekali tidak menyewa tenaga manusia untuk melakukan pemrograman, melainkan hanya mengandalkan bantuan teknologi kecerdasan buatan. “Aku ini pakai AI coding, jadi cuma prompting lewat AI untuk ngasih instruksi. Dan dari situ aku mulai belajar fundamental coding supaya hasil kode yang dihasilkan jauh lebih akurat,” terangnya.

Setelah melewati fase pembangunan selama tiga bulan, platform ini telah memasuki tahap distribusi dan uji coba pasar. Harits menjelaskan bahwa untuk mendukung kelangsungan bisnis ini ke depannya, ia berencana menerapkan strategi pemasaran digital yang lebih terarah.

“Yang pertama itu nyari investor karena untuk kita mempromosikan aplikasi, tools ini lumayan makan banyak bujet, karena beberapa software atau tools biasanya diiklankan lewat Meta Ads. Nah terus yang kedua, selain Meta Ads itu aku butuh User Generated Content (UGC). Misalkan banyak content creator di Instagram atau TikTok itu mereka mempromosikan produk,” ungkap Harits.

Di era serba digital, Harits berpesan kepada sesama mahasiswa agar selalu berani mengambil risiko dan mempelajari AI dalam berinovasi. “Kita engga cuma sekadar ngasih instruksi tapi kita juga harus tau berapa banyak tools-tools AI yang bisa kita manfaatkan dan gunakan supaya output yang dihasilkan itu jauh lebih akurat,” tutupnya. (S)

Penulis: Rifqi Akbar Athallah Lazuardi
Editor: ‘Indanaa Zulfaa