
Ikomupnjatim – Harits Razan, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) berhasil menembus top 10 dari 1000 pendaftar Beasiswa Revolusi Malaka Project. Keberhasilan ini merupakan buah dari kreatifitas dan daya berpikir kritis yang ia tuangkan dalam video esai bertema “Kritik dan Permasalahan Perguruan Tinggi di Indonesia”.
Dalam videonya, Harits menilai bahwa kegagalan sistem perguruan tinggi menyebabkan kesenjangan keterampilan di dunia kerja. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh kampus, melainkan juga mental pasif mahasiswa. “Kita tidak bisa disuapi secara terus-menerus oleh dosen, oleh kurikulum yang diajarkan, kita juga harus kritis sebagai mahasiswa,” imbuhnya.
Harits juga mengkritik metode pengajaran yang hanya menekankan teori tanpa menjabarkan implementasinya. Pendapat tersebut didukung oleh Windri, Dosen IKOM yang menjadi narasumber dalam video tersebut. “Secara biologis otak kita itu bukan album foto, melainkan buku navigasi panduan untuk bertahan hidup. Dia nggak akan bisa mengingat setiap detail informasi yang disampaikan, melainkan hanya mengingat suatu hal yang relevan dan penting bagi dirinya,” jelasnya.

Secara keseluruhan, Harits menyimpulkan bahwa kegagalan sistem pendidikan tinggi merupakan permasalahan dua arah yang kompleks. “Hal ini bukan sekadar kesalahan kampus atau kurikulumnya saja, tetapi juga beban administratif, metode pengajaran, dan mentalitas pasif dari mahasiswa itu sendiri,” ujarnya.
Meski awalnya sempat ragu mendaftar, didorong jiwa kritisnya, Harits tetap yakin bahwa dirinya mampu memberikan analisis tajam dan solutif untuk topik permasalahan ini. “Selama ini analisisnya kurang solutif dan gak ngasih identifikasi masalah yang baik, nah dari situ mungkin muncul rasa greget lah gitu,” ungkap Harits.
Selain mendapatkan bantuan dana perkuliahan, penerima beasiswa juga mendapat pembekalan dari tokoh-tokoh Malaka Project, seperti Ferry Irwandi, Coki Pardede, Cania Citta, dan beberapa figur publik ternama lainnya. Di Jakarta, Harits melalui masa karantina selama sepekan untuk mempelajari berbagai konsep yang nantinya digunakan saat pitching permasalahan perguruan tinggi yang diusung oleh masing-masing peserta.
Selama masa karantina, para peserta diuji secara mental dengan mempresentasikan gagasan mereka di hadapan para dewan juri secara langsung. “Kita benar-benar dicecar seperti sedang sidang skripsi agar terbiasa menghadapi berbagai tekanan dari orang lain,” kata Harits saat menceritakan pengalamannya.

Berkumpul dengan penerima beasiswa lainnya berhasil menyadarkan Harits akan pentingnya memperbanyak referensi informasi melalui berbagai aktivitas. Harits sekaligus mengajak sesama mahasiswa untuk membangun fondasi berpikir yang lebih kuat sehingga generasi muda dapat menavigasi kehidupan ke arah yang lebih baik. (D)
Penulis: Rifqi Akbar
Editor: ‘Indanaa Zulfaa




