Ikomupnjatim – Education Account Management East Telkomsel, Isnaendera Yusminanda hadir sebagai pembicara pada Communications Festival (COMMFEST) 2026. Isnaendera menyampaikan materi terkait teknik komunikasi yang efektif di lingkungan pekerjaan.
Pada pemaparannya, Isnaendera menekankan bahwa keterampilan komunikasi merupakan fondasi yang krusial bagi mahasiswa, baik di ranah akademik maupun dunia kerja nantinya. “Mungkin bisa dibilang 80-90% persentase keberhasilan dalam real life atau pekerjaan itu dari bagaimana cara kita berkomunikasi,” ungkapnya di hadapan para peserta.
Ia memaparkan lebih lanjut bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menjamin kesuksesan seseorang jika tidak diimbangi dengan kemampuan interpersonal yang baik. “Kita mungkin boleh sangat pintar atau kredibel dalam hard skill kita, tapi soft skill itu adalah penentu atau tolak ukur keberhasilan,” tegas Isnaendera.
Menurut Isnaendera mengasah kemampuan komunikasi adalah sebuah proses pembelajaran tanpa akhir karena kondisi emosional dan stabilitas pikiran manusia selalu mengalami naik turun. “Mau seprofesional apa pun kita atau setua apa pun dia namanya manusia itu emosinya kan naik dan turun kondisi emosional dan kestabilan pikirannya, jadi kita gak akan pernah excellence terus,” ujarnya.
Isnaendera mendorong mahasiswa untuk berani menembus batasan diri mereka dengan memperbanyak interaksi sosial serta melatih kontrol emosi saat berdiskusi. “Intinya cara mengasah skill komunikasi itu adalah perbanyak socialize, kita harus ikutin berbagai kegiatan gitu,” pungkasnya.
Materi yang disampaikan juga membedah empat kuadran gaya komunikasi manusia, yaitu tipe emotif, direktif, reflektif, dan suportif. “Kita manusia terlahir dengan genetika karakter bawaan, tetapi tantangan terbesarnya adalah lingkungan saat proses bertumbuh yang akan sangat berperan membentuk dominasi gaya tersebut,” jelasnya.
Isnaendera juga menjawab antusiasme peserta mengenai urgensi kemampuan negosiasi yang rupanya tidak hanya eksklusif milik anak ilmu komunikasi, melainkan seluruh elemen masyarakat. Ia mencontohkan bahwa negosiasi sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari diskusi penentuan topik tugas kuliah hingga proses bimbingan dengan dosen.
Sebagai penutup, Isnaendera menganalogikan manusia layaknya seekor bunglon yang harus mampu beradaptasi dan menyesuaikan teknik komunikasinya di berbagai situasi. “Kita harus mampu menyesuaikan, karena suksesnya kita di real life itu tidak di IQ kita saja, melainkan bagaimana kita mengelola dan mengontrol EQ kita,” jelasnya. (A)
Penulis: Rifqi Akbar Athallah Lazuardi




