
Ikomupnjatim — Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT), Dr. Irwan Dwi Arianto, S.Sos., M.I.Kom., meluncurkan buku berjudul “Pseudopower: Kuasa Semu di Era Algoritma” pada Januari 2026 melalui penerbit Prenada Group (Kencana).
Buku tersebut merupakan respons terhadap maraknya ilusi popularitas dan manipulasi pengaruh di era digital, sekaligus mengangkat fenomena meningkatnya penggunaan buzzer, phone farm, serta angka pengikut media sosial yang tidak selalu mencerminkan pengaruh nyata.
Irwan menjelaskan bahwa buku ini disusun berdasarkan riset disertasinya yang menyoroti kecenderungan masyarakat dalam mempercayai visibilitas di media digital tanpa memahami proses di baliknya. “Banyak yang tertipu dengan angka-angka itu dan mempercayainya secara sementara,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa algoritma media sosial turut berperan dalam membentuk pola komunikasi digital melalui fenomena echo chamber, di mana pengguna cenderung terpapar pada informasi yang seragam dan terbatas pada komunitas tertentu. “Orang terperangkap dalam kesamaan itu sehingga menganggap yang di luar komunitasnya salah,” jelasnya.
Selain memaparkan kritik terhadap fenomena tersebut, buku ini juga menawarkan pendekatan metodologis melalui penggabungan Social Network Analysis dan Foucauldian Discourse Analysis. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis jaringan komunikasi, mengidentifikasi aktor berpengaruh, serta memahami konstruksi narasi di ruang digital.
Dalam proses analisis, buku ini memanfaatkan perangkat seperti NodeXL dan ASIGTA untuk pengumpulan dan pengolahan data, termasuk analisis sentimen Bahasa Indonesia, pemetaan hashtag dan emoji, serta identifikasi peran influencer dalam ekosistem digital.
Karya ini juga mendapatkan apresiasi dari kalangan akademisi nasional dan internasional. Buku tersebut dilengkapi kata sambutan dari Marc A. Smith, pendiri NodeXL, serta kata pengantar dari Rachmah Ida, Profesor Kajian Media dan Budaya Universitas Airlangga. Irwan mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap kontribusi kajian yang diangkat dalam bukunya.

Buku ini ditujukan bagi kalangan akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat umum sebagai referensi dalam memahami dinamika komunikasi digital berbasis data, sekaligus membantu pembaca membedakan antara kuasa yang nyata dan kuasa semu di era digital.
Irwan juga menyoroti potensi dampak negatif dari fenomena kuasa semu, salah satunya melalui penggunaan filter digital yang dapat memengaruhi persepsi diri individu di dunia nyata.
Ia berharap buku tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan media digital secara kritis. “Saya berharap akan terbangun kesadaran yang lahir dari pola pikir yang benar, berbasis ilmu pengetahuan, sehingga masyarakat lebih bijak dalam melakukan digital activism,” pungkasnya. (D)
Penulis: Aura Dwinda Sugianti
Editor: Nabilla Putri Sisilia




