Bedah Film “Good Will Hunting”, Ibnaty Qanita Larasati Raih Best Film Review on TikTok di Commfest 2026

A descriptive sentence about the image for SEO
Laras meraih penghargaan Best Film Review on TikTok lewat ulasan film Good Will Hunting (Dok. Favian, Tim Web News)

Ikomupnjatim – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh Ibnaty Qanita Larasati yang berhasil meraih penghargaan Best Film Review on TikTok pada Commfest 2026. Penghargaan tersebut diraih berkat kreativitasnya dalam mengulas film secara mendalam.

Mahasiswi yang akrab disapa Laras ini memilih untuk mengulas sebuah film klasik psikologi yang berjudul Good Will Hunting pada mata kuliah Kajian Sinema. Film tersebut mengisahkan tentang karakter Will Hunting yang merupakan seorang pemuda jenius yang berjuang dengan perjuangannya mengatasi trauma masa lalunya bersama psikolog bernama Sean Maguire.

Ulasan video yang dibuat oleh Laras berfokus pada analisis tajam terhadap aspek mise-en-scène serta teknik filmografi yang digunakan di dalam film. “Jadi beberapa elemen yang aku analisis itu seperti pakaian dari tokohnya, lighting, make up, emosi aktingnya terus aku bagi satu dua frame itu jadi rule of third sama the golden ratio untuk menunjukan pesan apa sih yang sedang diperkuat dengan melalui pembagian dari rule of third dan golden ratio,” jelasnya.

Laras sengaja menggunakan sebuah kalimat pembuka atau hook emosional untuk menarik perhatian penonton di TikTok. “Kalian tahu nggak sih hal yang tersulit di dunia ini bukanlah mendaki, merantau, atau memenangkan lomba, melainkan memaafkan diri sendiri?” ujarnya.

Analisis yang dilakukan oleh Laras menjelaskan bahwa trauma masa lalu yang mendalam membuat karakter Will terjebak dalam kondisi gangguan psikologis avoidant attachment. “Karena dia ada trauma dan trauma itu yang pada akhirnya seperti membuat dia kembali menyalahkan diri sendiri sampai akhirnya dia itu nggak bisa terus maju dalam hidupnya,” jelasnya.

Konten kreatif yang Laras buat menyampaikan pesan berharga bahwa orang yang mengalami trauma sering kali tidak membutuhkan saran yang logis. “Maka dari pesan yang bisa aku tonjolkan dari tulisanku adalah sometimes orang-orang itu nggak butuh advice, mereka nggak perlu saran logika ketika mereka telah mengalami sesuatu, melainkan lebih ke pernyataan menenangkan seperti nggak apa-apa aku paham kok, aku ada disini buat kamu, it’s not your fault, itu bukan salahmu,” tegasnya.

Laras mengaku merasa sangat senang sekaligus bersyukur mengetahui karyanya keluar sebagai pemenang dan sama sekali tidak menyangka akan mendapat penghargaan. “Perasaanku saat tulisanku terpilih di award tentunya seneng banget karena aku nggak nyangka juga bakal terpilih. Tapi tentunya seneng banget dan bersyukur dan berharap kedepannya mungkin orang lebih aware sama mental health,” ungkapnya.

Harapan besar dari Laras agar masyarakat luas dapat menjadi jauh lebih peduli terhadap isu-isu kesehatan mental di sekitar mereka. Laras berpesan bahwa kesehatan mental merupakan sebuah penyakit nyata yang bisa menghantui siapa saja dan tidak bisa disembuhkan begitu saja dengan obat konvensional. (S)

Penulis: Favian Fadlurahman