Di tulis oleh: Heidy Arviani
“What we do for ourselves dies with us. What we do for others and the world remains and is immortal.”
Baru sekarang saya bisa menuliskan tentang Pak Irwan. Beliau begitu berkesan bagi banyak orang, hingga saya kesulitan merangkum dan memulai. Kepergiannya terlalu cepat, meninggalkan duka yang sulit dijelaskan dengan kata. Kami kehilangan seorang kolega yang jiwanya begitu hangat. Pak Irwan selalu bertanya dengan riang, “Gimana, Heidy? Ada kabar baru apa? Ayo ngopi, mau bakso?“
Pak Irwan adalah akademisi dengan rasa ingin tahu besar, terbuka terhadap ide baru, dan tidak pelit berbagi ilmu. Baginya, dunia data dan komunikasi bukan sekadar pekerjaan, melainkan sesuatu yang ia hidupi dengan passion.
Salah satu legacy dari Pak Irwan adalah ASIGTA (Analisis Komunikasi Big Data). Secara pribadi, saya maknai ulang sebagai “Akal, Spirit, dan Gagasan Irwan Dwi Arianto”. Bukan kepanjangan resmi, tetapi terinspirasi dari keyakinan beliau bahwa data bukan sekadar angka, melainkan pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang manusia.
Pak Irwan dekat dengan data insight, depth analysis, dan mixed methods. Kemampuan melihat kemungkinan yang belum tentu tampak bagi orang lain. Ketika kebanyakan orang berhenti pada data, Pak Irwan menggali wacana, apa yang bisa dijelaskan, dan apa yang masih tersembunyi di baliknya. Tak heran jika beliau dikenal sebagai salah satu sosok dengan perhatian dan keahlian yang kuat pada Big Data dalam bidang ilmu komunikasi di Indonesia. Kami sangat bangga.
Pengetahuan beliau dibagikan tanpa segan kepada siapapun. Semangat itu tak pernah luntur sampai akhir hayatnya. Di tengah kesibukan profesi, Pak Irwan tetap peduli kepada orang lain. Pak Irwan juga seseorang yang menyenangkan, jahil dan suka bercanda. Punya caranya sendiri untuk mencairkan suasana. Mungkin karena itu networking-nya begitu luas. Temannya banyak, sahabatnya di mana-mana.
Di luar semua itu, ada satu ruang yang paling penting dalam hidupnya, yaitu keluarga. Pak Irwan meninggalkan seorang istri dan tiga anak hebat yang sangat dicintainya. Bagi keluarganya, beliau adalah suami dan ayah yang selalu berusaha hadir. Di situlah barangkali sisi Pak Irwan yang paling nyata sekaligus paling dalam. Seseorang dengan begitu banyak manfaat, namun tetap memiliki tempat pulang.
Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi. Lab Digital Integrated seperti kehilangan rohnya. Ciri khas almarhum menghidupkan ruangan dengan etos kerja, impian, rasa ingin tahu, dan kepedulian yang tidak dapat direplikasi. Tidak ada yang dapat menjadi Irwan Dwi Arianto.
Keabadian bukan berarti hidup tanpa akhir. Ketika kebaikan seseorang terus dipikirkan setelah ia pergi, ilmunya terus digunakan. Niscaya ia tetap hidup ketika orang yang pernah dibantu kemudian membantu orang lain.
Pak Irwan telah memaksimalkan hidupnya. Berjuang, belajar, berbagi, membangun jejaring, mencintai keluarga, dan menanamkan semangat untuk terus berkembang. Tak ada kehidupan yang benar-benar tuntas. Apa yang telah dimulai, dan siapa yang melanjutkannya.
Kami kehilangan seseorang yang sangat istimewa. Sampai sekarang rasanya masih seperti mimpi. He is gone too soon. Tapi mungkin begitulah cara Pak Irwan untuk terus hadir. Melalui impiannya yang belum selesai. Dalam percakapan yang kami teruskan, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah disentuh kebaikannya.
Pencipta lebih menyayangimu. Terima kasih untuk ilmu, persahabatan, tawa, dan ketulusan yang pernah engkau bagi.
Selamat jalan, Pak Irwan Dwi Arianto (8 Februari 1976 – 5 Agustus 2026).
A kind spirit never truly dies, it lives on in every heart it touched.
