Ikomupnjatim – Dalam Symposium & Convention Communication (Commposition) 2026 di UPN “Veteran” Jawa Timur pada hari Rabu, (04/11/2026). PT Jamu Iboe Jaya membahas strategi mereka untuk mengubah produk tradisional ke era teknologi. Perry Angglishartono, Manajer Produk Grup PT Jamu Iboe Jaya, menyampaikan langsung langkah tersebut melalui penggunaan komunikasi omnichannel dan kerja sama lintas sektor.
Dalam pemaparannya, Perry menekankan pentingnya untuk mengoptimalkan jalur komunikasi dan pendekatan penjualan agar produk yang berkualitas tinggi tidak terbuang sia-sia di pasar. Ia menguraikan bahwa Jamu Iboe berusaha menjangkau konsumen dari berbagai aspek, dimulai dengan pelaksanaan strategi omnichannel di pasar hingga memperluas ke sektor Horeka (Hotel, Restoran, dan Kafe).
Untuk menarik perhatian generasi muda, perusahaan jamu yang terkenal ini secara aktif melakukan kolaborasi antar disiplin ilmu dengan sejumlah universitas. Perry menjelaskan bahwa kolaborasi ini tidak terbatas pada jurusan desain atau bisnis saja, tetapi juga mencakup bidang lain seperti fashion hingga arsitektur.
Langkah aktif menjadi pembicara di kampus dilakukan dengan sengaja sebagai cara untuk menyosialisasikan agar generasi muda memahami nilai-nilai sejarah dan kualitas jamu. Menurutnya, jamu lokal adalah produk yang turun temurun, berasal dari budaya yang berkembang maju, dan memiliki peluang bisnis yang sangat besar di Indonesia.
“Jamu ini bukan produk yang ecek-ecek, tapi produk kraton yang berkembang menjadi bisnis. Di Indonesia, bahan bakunya nomor dua di dunia dan 59 persen masyarakatnya pernah minum jamu, jadi syarat industrinya sangat kuat,” ujar Perry di hadapan para peserta simposium.
Ia juga menekankan peran penting ilmu komunikasi dalam menjaga kelangsungan industri jamu lokal. Menurutnya, kemampuan storytelling, keahlian public relations, serta strategi digital PR sangat penting untuk mempromosikan produk tradisional agar tetap relevan.
Materi yang disampaikan diterima dengan antusias oleh mahasiswa yang hadir, salah satunya Jea, seorang mahasiswi semester 7 program Studi Ilmu Komunikasi di UPN “Veteran” Jawa Timur. Jea merasa bahwa penyampaian Perry berhasil membuat generasi muda sadar bahwa jamu kini sudah mengalami perubahan dalam penampilan dan rasa yang lebih modern.
“Sekarang jamu dikemas lebih modern dan dipadu dengan rasa buah atau minuman manis, jadi sehat itu tidak harus pahit namun bisa dinikmati dengan lebih menyenangkan dan jamu bukan lagi cuma buat orang tua, tapi cocok untuk Gen Z,” ungkap Jea usai menyimak sesi wawancara. (N)
Berita ini sangat relevan dan mendukung SDGs Poin 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth).
Penulis: Baby Andrela Pepitha




