Ikomupnjatim – Sebuah karya yang bertajuk “Suara yang Tak Boleh Sunyi : Ketika Kampus Gagal Menjadi Rumah yang Aman” berhasil membawa pulang gelar Best Podcast dalam ajang Communication Festival 2026. Karya Kelompok 7 dari kelas Jurnalisme Kreatif A yang mengulik isu kekerasan seksual di lingkungan kampus dinilai unggul di antara seluruh peserta.
Podcast ini mengangkat isu kekerasan seksual di lingkungan kampus dengan menghadirkan tiga perspektif narasumber yang berbeda mulai dari korban, psikolog, hingga dosen. Melalui wawancara yang dilakukannya, kelompok ini mengulik bagaimana bentuk kekerasan seksual, dampak psikologis yang dialami oleh korban, serta pesan agar para korban tindak kekerasan berani untuk speak up.
Melalui edukasi mengenai tindak kekerasan, topik ini dipilih karena dinilai relevan dan penting untuk disuarakan utamanya bagi wanita. Mengingat banyaknya kasus tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan kampus masih kerap terjadi sehingga membuat korban cenderung trauma dan tidak memiliki keberanian untuk speak up, maka melalui podcast bertajuk “Suara yang Tak Boleh Sunyi : Ketika Kampus Gagal Menjadi Rumah yang Aman” kini disuarakan.
Sejumlah aspek dibahas dan dikupas tuntas dalam podcast ini, isu ini menjadi perhatian khusus karena kampus yang seharusnya menjadi tempat aman bagi mahasiswa dan menuntut ilmu justru kerap menjadi tempat terjadinya kasus-kasus tersebut. Banyaknya korban yang memilih bungkam karena takut tidak dipercaya oleh teman, stigma sosial, hingga ketakutan berlebih terhadap pelaku menjadikan mekanisme pelaporan tindak kekerasan seksual sebagai bentuk edukasi dan dukungan nyata bagi para korban.
Ravina Damayanti, salah satu anggota kelompok yang akrab dipanggil Rara mengaku bahwasanya ia dan teman-teman tidak menyangka karya mereka mampu meraih penghargaan kategori Best Podcast di COMMFEST 2026. “Aku juga mau nyampein makasih banyak buat kelompok 7 podcast ini. Makasih udah berusaha dari awal sampai jadi best podcast,” ujar Rara.
Perjalanan kelompok ini dalam menyelesaikan podcast ternyata tidak semulus yang dibayangkan, berbagai kendala datang silih berganti. Mulai dari narasumber yang sulit untuk dihubungi, revisi naskah berkali-kali, proses editing yang mepet waktu, hingga link podcast yang tidak bisa diakses saat itu.
Meski demikian, semua hambatan itu berhasil mereka lalui berkat kekompakan dan semagat juang seluruh anggota tim. Saling bahu membahu satu sama lain menjadikan kelompok ini istimewa dan semangat meraih juara. “Aku bener-bener sangat bersyukur dapet kelompok yang anggotanya keren, punya inisiatif yang tinggi, dan juga supportif satu sama lain,” jelas Rara.
Penghargaan ini tidak semerta-merta menjadi ajang kompetisi biasa. Bagi mereka segala jenis tindak kekerasan seksual yang dilakukan tidak boleh dibungkam, hal ini menjadi pengingat bahwasanya korban berhak dalam bersuara dan mendapat dukungan penuh dari lingkungan sekitarnya.
Penulis: Lailatul Jannah Indah Lestari




